Perang Jawa (1741-1743)
Perang Jawa merupakan perang besar di masa pemerintah kolonial Belanda. Dilansir dari laman boombastis.com,
perang ini melibatkan bala tentara Jawa dan etnis Tionghoa yang geram
dengan pendudukan serdadu Belanda di Batavia. Kompeni bahkan tega
membanti ribuan orang etnis Tionghoa dalam jangka waktu dua pekan.
Akhirnya, sentimen anti-kolonial meluas hingga ke wilayah Jawa
Tengah dan Jawa Timur. Belanda kala itu diperkuat sekira 3.400 tentara
bersenjata lengkap, sedangkan pasukan pribumi menang jumlah dengan
mencapai puluhan ribu tentara namun mereka hanya menggunakan senjata ala
kadarnya. Pertempuran ini akhirnya berhasil diredam Belanda dan
kerajaan di Tanah Jawa perlahan tapi pasti berhasil dikuasai.
Perang Diponegoro (1825-1830)
Perang yang dijuluki Perang Jawa jilid II ini melibatkan kekuatan
yang jauh lebih besar. Terdapat sekira 100 ribu tentara di bawah
komando Pangeran Diponegoro menyerang serdadu Belanda. Pertempuran ini
berlangsung selama lima tahun.
Kemenangan akhirnya berpihak pada Belanda. Meski keluar sebagai
pemenang perang, namun Belanda menderita kerugian materi sangat besar
sehingga diambang kebangkrutan. Dari sinilah Johannes van den Bosch
akhirnya mengeluarkan perintah sistem tanam paksa (cultuurstelsel) yang
membuat para penduduk di Tanah Jawa kian menderita.
Pertempuran Batavia (1628-1629)
Aktor penyerbuan Batavia tidak lain ialah Sultan Agung dari
Mataram. Penyerbuan itu dilatarbelakangi oleh VOC yang memonopoli
perdagangan. VOC juga menolak mengakui kedaulatan Mataram. Keberadaan
VOC di tanah Batavia yang dianggap sebagai ancaman serius bagi masa
depan Pulau Jawa membuat Sultan Agung tidak tinggal diam.
Sultan Agung lalu mengerahkan banyak pasukan untuk menyerang
Batavia yang saat itu dipimpin oleh Jan Pieterszoon (JP) Coen. Sebanyak
dua kali serangan ke Batavia dilancarkan. Namun, lagi-lagi Belanda
berhasil memenangkan pertempuran. Banyak tentara dari Sultan Agung
meninggal dunia akibat penyakit kolera dan malaria. Namun, meski kalah,
pasukan Mataram tak kehilangan akal.
Mereka mengirimkan wabah penyakit ke Batavia. Prajurit Mataram
lalu mencemari Sungai Ciliwung dengan bangkai binatang. Hasilnya
efektif, selang tak berapa lama Batavia diserang wabah kolera lantaran
meminum air dari Sungai Ciliwung yang terkontaminasi bangkai tadi.
Banyak warga tewas akibat penyakit ini, termasuk istri JP Coen,
Eva Ment. Empat hari berselang, JP Coen juga meninggal dunia lantaran
wabah tersebut. Jenazahnya pun oleh Belanda dibuatkan makam terbaik yang
kini beralihfungsi menjadi Museum Wayang.